Website dalam pengembangan

Membangun Sinergi untuk Pendidikan yang Humanis di Ujung Selatan Indonesia

Elisabeth Luzyana

~

Sebuah Awal di Ujung Selatan Indonesia

Pagi itu, matahari baru saja muncul dari balik deretan pohon lontar yang menjadi penanda khas desa-desa di pulau Rote, pulau terselatan Indonesia. Kehangatan matahari pagi seakan disambut oleh semangat para pendidik dan siswa yang sejak pagi telah mempersiapkan STEAM JAMBOREE Rote Ndao 2026, “Selatan Bersinar”. Acara itu tidak berlangsung di sebuah aula megah, tetapi hadir di halaman sebuah sekolah yang tidak jauh dari pantai di Kecamatan Lobalain. Namun, dari tempat yang sederhana itu, muncul sebuah harapan yang jauh lebih besar bahwa pendidikan yang bermakna dapat bertumbuh bahkan di tempat yang selama ini lebih sering dikenal karena berbagai keterbatasannya.
Seolah tidak ingin memberi ruang bagi keterbatasan - para panitia, puluhan guru, dan ratusan siswa dari empat belas sekolah dan komunitas belajar mulai mengatur dan menghias stand dengan sebaik mungkin. Atap setiap stand dihiasi daun-daun kelapa yang telah mengering dan berubah kecokelatan serta yang bagian depannya dibuat dari pelepah pohon lontar, yang kedua bahan tersebut didapat dengan mudah di Pulau Rote. Semuanya ingin memberikan pesan bagi semua yang hadir bahwa pendidikan sejatinya dapat dimulai dari apa yang ada di tangan kita sendiri.
STEAM JAMBOREE Rote Ndao 2026 “Selatan Bersinar” bukanlah sekadar sebuah pameran, apalagi sebuah lomba antar sekolah. Jauh dari itu, sekolah-sekolah yang selama ini berjalan sendiri-sendiri memutuskan untuk belajar bersama dan bergerak bersama melalui wadah ini. Setiap sekolah dan komunitas belajar mengusung tema-tema proyek yang berbeda, kreatif dan menjadi solusi bagi permasalahan yang terjadi masyarakat di sekitarnya. Tak ada yang berdiri sebagai "sekolah terbaik". Yang ada adalah siswa-siswa yang dengan bangga berkata,
"Ini proses dan hasil kami."

~

Ketika Bupati Memberikan Apresiasi dan Afirmasi
Kehadiran kepala daerah Kabupaten Rote Ndao, Bapak Bupati Paulus Henuk, S.H. dalam kegiatan ini memberikan makna dan dorongan yang besar bagi inisiatif yang tumbuh melalui STEAM Jamboree. Beliau menangkap semangat dan gagasan yang ingin dibangun m elalui kegiatan ini, yaitu menjadikan STEAM Jamboree sebagai sebuah wadah belajar bersama dimana guru, siswa, orang tua, komunitas, pemerintah daerah, dunia usaha, dan berbagai mitra pendidikan dapat bertemu dan berkolaborasi. Dalam kesempatan tersebut, dukungan Bapak Bupati tidak berhenti pada apresiasi bagi panitia dan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Beliau langsung menyampaikan himbauannya untuk Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Asisten III, serta seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Rote Ndao mempersiapkan penyelenggaraan Rote Ndao STEAM Jamboree pada tahun berikutnya dalam skala kabupaten. Beliau juga mendorong agar wadah jejaring sekolah-sekolah ini dipersiapkan dengan sebaik mungkin dan memperoleh dukungan anggaran melalui APBD.


Dalam pidato pembukaan tersebut, sejumlah gagasan yang disampaikan Bapak Bupati menunjukkan arah yang kuat menuju pendekatan pendidikan yang humanis, pendidikan yang memandang anak sebagai manusia seutuhnya, mengenali potensi mereka, dan menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Beliau juga memperkuat tagline kegiatan STEAM Jamboree yang terpampang di backdrop panggung “Membangun Generasi Kolaboratif, Inovatif, Berdampak untuk Rote Ndao hingga dunia”. Selain tentang arti penting kolaborasi dalam transformasi pendidikan, Bapak Bupati juga menekankan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi yang setara. Ketika disampaikan bahwa anak-anak di Indonesia bagian selatan memiliki kapasitas berpikir dan berprestasi yang sama dengan anak-anak di kota-kota besar, sesungguhnya yang sedang ditegaskan bukan hanya soal kemampuan akademik. Yang sedang ditegaskan adalah martabat. Bahwa seorang anak tidak menjadi kurang mampu hanya karena ia lahir jauh dari pusat-pusat kota, jauh dari fasilitas yang lengkap, atau tumbuh dalam konteks geografis yang berbeda.

~

Paradoks Pendidikan di NTT
Keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi yang setara merupakan salah satu gagasan yang kuat kami tangkap dari pesan Bapak Bupati. Keyakinan itu pula yang sejak awal mendorong kami membangun sinergi untuk pendidikan yang humanis melalui STEAM Jamboree. Pengalaman di lapangan justru membawa kami pada sebuah pertanyaan yang lebih besar “Jika setiap anak memiliki potensi yang setara, apakah setiap anak juga memiliki kesempatan yang setara untuk menemukan, mengembangkan, dan menunjukkan potensinya?”
Pertanyaan itu menjadi penting karena apa yang kami lihat di STEAM Jamboree menunjukkan sesuatu yang sederhana, tetapi mendasar. Ketika anak diberi ruang untuk mencoba, bertanya, mencipta, bekerja dalam tim, dan memecahkan persoalan yang dekat dengan kehidupannya, kemampuan mereka terlihat nyata dan bahkan mereka lebih bersemangat dan mendorong diri lebih lagi. Anak-anak yang mungkin tidak selalu menonjol dalam pembelajaran konvensional tetapi mereka dapat menunjukkan kreativitas, keberanian, ketekunan, dan kemampuan berpikir yang luar biasa dalam proses kehidupan yang nyata. Namun, ruang seperti itu belum tentu tersedia secara merata bagi semua anak. Lebih banyak anak-anak yang diarahakan untuk terfokus pada hasil akademik saja. Dalam hal penilaian pun, tidak sedikit para pendidik yang mungkin menggunakan ukuran yang sempit untuk mengenali kemampuan mereka?
Siswa yang mungkin mengalami kesulitan untuk menghafal materi di kelas, tetapi saat mereka belajar di kebun, mereka dapat mengingat jelas bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat pupuk organik dan bahkan mereka memahami prosedur dari awal hingga panen. Di tempat lain, anak-anak yang mungkin kesulitan memulai belajar dengan berbagai rumus matematika tetapi mereka sangat piawai memainkan alat musik tradisional ‘sasandu’. Dalam kasus lainnya, siswa SMP yang takut salah dalam menjawab soal-soal matematika di kelas, tetapi memiliki keberanian mencoba untuk membuat berbagai dekorasi yang indah dari bahan alam.
Di sinilah kita mulai melihat sebuah paradoks. Kita sering mengatakan bahwa setiap anak memiliki potensi, tetapi kesempatan bagi anak untuk menemukan dan mengembangkan potensinya belum tentu sama. Kita percaya bahwa anak-anak di daerah memiliki kemampuan yang setara dengan anak-anak di kota besar, tetapi lingkungan belajar yang mereka miliki belum selalu memberi kesempatan yang setara untuk membuktikannya.
Padahal, NTT memiliki kekayaan yang luar biasa sebagai ruang belajar. Anak-anak hidup sangat dekat dengan laut, pertanian, lahan kering, peternakan, budaya, kerajinan, musik tradisional, komunitas, dan berbagai aktivitas ekonomi lokal. Semua itu bukan sekadar latar belakang kehidupan anak, tetapi dapat menjadi
sumber belajar yang konkret. Alam dapat menjadi laboratorium, masyarakat dapat menjadi ruang belajar, dan persoalan kehidupan sehari-hari dapat menjadi bahan untuk melatih anak berpikir, mencipta, mencoba, dan menemukan solusi.
Karena itu, persoalan pendidikan tidak cukup dijawab hanya dengan pertanyaan “Apa yang harus diketahui anak?” Kita juga perlu bertanya, “Apakah anak memiliki cukup ruang untuk menemukan apa yang dapat ia lakukan?”
Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan yang lebih luas. Kesempatan untuk belajar, bertahan, dan melanjutkan pendidikan pun belum dinikmati secara merata. Data Susenas 2025, misalnya, menunjukkan bahwa di Kota Kupang, salah satu pusat pendidikan di NTT, Angka Partisipasi Murni (APM) turun dari 96,17% pada jenjang SD/MI menjadi 73,62% pada SMP/MTs dan 61,83% pada SMA/SMK/MA. Angka ini tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh persoalan pendidikan, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa kesempatan untuk tetap melanjutkan pendidikan masih menghadapi kesenjangan. Jika persoalan kesempatan masih terlihat bahkan di ibu kota provinsi, kita dapat membayangkan betapa kompleks tantangannya bagi anak- anak di wilayah lain dengan akses dan dukungan yang lebih terbatas.
Pada saat yang sama, kita menghadapi ironi lain. Kota Kupang setiap tahun menghasilkan ribuan lulusan perguruan tinggi, sementara sekolah-sekolah di berbagai wilayah NTT masih menghadapi persoalan pemerataan tenaga pendidik dan kualitas pembelajaran. Ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak sesederhana kekurangan manusia terdidik. Ada persoalan tentang bagaimana pengetahuan, sumber daya manusia, kesempatan, dan kualitas pembelajaran dapat hadir secara lebih merata di tempat anak-anak membutuhkannya.
Maka, paradoks pendidikan di NTT bukanlah bahwa anak-anak kita tidak memiliki potensi. Bukan pula karena kita tidak memiliki sumber daya. Potensinya ada. Sumber belajarnya ada. Manusia terdidiknya juga ada. Tetapi belum semuanya terhubung dalam sebuah ekosistem yang memungkinkan setiap anak bertumbuh.
Dan di sinilah pendidikan humanis menjadi penting. Pendidikan humanis bukan sekadar memperlakukan anak dengan lebih baik. Ia berarti memandang anak sebagai manusia seutuhnya—dengan potensi, pengalaman, konteks kehidupan, cara belajar, dan kemampuan untuk memberi makna bagi lingkungannya. Pendidikan perlu memberi ruang agar anak bukan hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga menjadi pembelajar, pencipta, pemecah masalah, dan bagian dari solusi bagi kehidupan di sekitarnya.
Dan pada titik inilah kita kembali pada makna sinergi. Sebab ketika kesempatan belum merata, kita tidak cukup hanya berharap setiap anak dapat tumbuh sendiri. Kita perlu membangun jejaring yang membuat lebih banyak pintu terbuka bagi mereka.

Jika demikian, tantangan kita bukan hanya bagaimana membuat sekolah menjadi lebih baik. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membangun lingkungan yang lebih luas di sekitar anak agar berbagai potensi yang mereka miliki dapat bertemu dengan kesempatan, pengetahuan, sumber daya, dan orang-orang yang dapat membantu mereka bertumbuh. Sebab ketika kesempatan belum merata, kita tidak cukup hanya berharap setiap anak dapat tumbuh sendiri. Kita perlu membangun jejaring yang membuat lebih banyak pintu terbuka bagi mereka. Anak- anak di Rote Ndao tidak kekurangan potensi maupun sumber belajar yang bermakna; yang masih kurang adalah ekosistem pendidikan yang menghubungkan anak, sekolah, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan berbagai mitra. STEAM Jamboree dapat menjadi salah satu model awal untuk membangun ekosistem tersebut.

~

Dari Sinergi Menuju Ekosistem Pendidikan yang Humanis
Jika persoalan pendidikan di ujung selatan Indonesia bukan semata-mata karena tidak adanya potensi, manusia terdidik, atau sumber belajar, tetapi karena belum terbentuknya ekosistem yang memungkinkan semuanya saling terhubung, maka membangun pendidikan yang humanis tidak dapat dikerjakan oleh sekolah seorang diri. Di sinilah jejaring dan kolaborasi menjadi penting.
STEAM Jamboree dalam masa persiapannya memberikan motivasi untuk proyek- proyek yang dimunculkan oleh setiap sekolah bukan sekadar hasil anak, tapi diharapkan dapat merupakan hasil karya anak dengan orang tua, atau hasil karya anak dengan guru, hasil karya antara guru dengan orang tua di rumah atau bahkan hasil karya anak dengan masyarakat di sekitarnya. Dengan demikian, setiap proyek menjadi “jembatan” untuk membangun jejaring yang terdekat dengan komunitas di sekitar. Dengan memperluas lingkaran pembelajaran, maka pembelajaran tidak dilihat semata-mata ada di dalam kelas. Lagi pula, anak-anak yang sudah terbiasa bekerja sama memiliki modal relasi untuk melanjutkan kolaborasi dan menghadapi tantangan bersama.
STEAM Jamboree juga memperlihatkan bahwa ketika sekolah-sekolah yang selama ini berjalan sendiri-sendiri mulai membuka diri untuk belajar bersama, sesuatu yang berbeda dapat terjadi. Guru tidak lagi hanya melihat praktik sekolahnya sendiri, tetapi dapat belajar dari cara sekolah lain mengembangkan pembelajaran. Anak tidak hanya melihat hasil karya teman dari sekolahnya, tetapi menemukan bahwa anak-anak lain juga memiliki gagasan, pengalaman, dan cara berpikir yang layak dihargai. Sekolah mulai melihat komunitas sebagai sumber belajar, dan masyarakat dapat melihat sekolah bukan sebagai ruang yang terpisah dari kehidupan mereka.
Dalam kunjungannya ke setiap stand yang ada dalam kegiatan STEAM Jamboree, Bapak Bupati mengingatkan bahwa sinergi pendidikan seharusnya tidak berhenti di
antara sekolah, tetapi juga perlu terbangun antara sekolah dan desa. Pemerintah desa perlu melihat berbagai kesempatan yang tersedia untuk mendukung proses pendidikan di wilayahnya bukan hanya dalam bentuk bantuan, tetapi dengan membuka akses terhadap potensi, budaya lokal dan berbagai sumber dayaserta berbagai persoalan nyata di desa yang dapat menjadi sumber belajar bagi anak- anak.
Salah satu bentuk konkrit sinergi yang dibangun didiskusikan dalam ruang temu antara tim kepanitiaan dari STEAM Jamboree dengan Bapak Bupati dimana dalam pembicaraan itu, kedua pihak memastikan adanya langkah-langkah yang lebih nyata agar jejaring yang terbentuk tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan, tetapi terus bertumbuh menjadi ruang kolaborasi yang membuka lebih banyak kesempatan belajar bagi pendidikan di Rote Ndao.

~

Jejaring Terjadi Ketika Setiap Pihak Membawa Sesuatu
Hannon dan Peterson (2021) melihat sekolah bukan sebagai ruang yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari learning ecosystem, di mana berbagai pihak dan ruang di luar sekolah dapat menjadi bagian dari proses belajar. Cara pandang ini memperluas pertanyaan tentang pendidikan - bukan hanya bagaimana sekolah mengajar anak, tetapi bagaimana sebuah ekosistem memungkinkan anak belajar dari dan melalui dunia di sekitarnya.
Jika sinergi ingin berkembang menjadi sebuah ekosistem, maka kita perlu terlebih dahulu melihat bahwa setiap pihak yang berada di dalam jejaring membawa sesuatu yang berharga. Di sinilah cara pandang humanis menjadi penting dimana setiap manusia dinilai memiliki martabat, potensi, pengalaman, dan kemampuan untuk berkontribusi. Tidak ada pihak yang semata-mata hadir sebagai penerima, dan tidak ada pihak yang harus selalu menjadi pemberi. Bahkan anak-anak sekecil apa pun usianya, mereka memiliki rasa ingin tahu, keinginan untuk belajar, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba. Hal-hal tersebut berharga untuk dibawa ke dalam proses bersama. Orang tua juga bukan hanya pihak yang menyerahkan proses pendidikan anak-anaknya ke sekolah, melainkan mereka adalah pihak yang memiliki pengalaman hidup, keterampilan, nilai-nilai, pekerjaan dan bahkan pengetahuan yang sering kali tidak ditemukan di dalam buku pelajaran. Pihak sekolah sendiri tidak hanya menyediakan ruang belajar, melainkan menyediakan pemerintahan yang memadai, serta kepemimpinan yang inspirasional dan organisasi yang efektif untuk terselenggaranya pendidikan yang memenuhi visi. Sementara guru membawa kemampuan mengajar, pengetahuan, pengalaman dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Masyarakat di sekitar memiliki ruang luas untuk belajar, budaya, lingkungan, sumber daya alam, serta berbagai bentuk pengetahuan lokal. Bahkan permasalahan nyata yang terjadi di masyarakat pun dapat juga dilihat
sebagai sesuatu yang dibawa oleh masyarakat sebagai studi kasus untuk anak-anak belajar secara konkrit menerapkan apa yang telah dipelajari. Pemerintah memiliki mandat, kebijakan, fasilitas, serta kemampuan untuk membuka akses dan mempertemukan berbagai pihak. Bahkan dunia usaha, organisasi dan lembaga, serta berbagai komunitas, dapat membawa keahlian, teknologi, pengalaman, maupun sumber daya yang memperluas kemungkinan belajar.
Dapatkah kita membayangkan bila sinergi tercipta dan bila setiap pihak tidak lagi datang dengan pertanyaan, “Apa yang bisa saya dapatkan dari jejaring ini?” atau “Apa yang bisa saya berikan kepada sekolah?”, melainkan dengan kesadaran, “Apa yang saya bawa, dan apa yang dapat kita bangun bersama?”

~

Penutup
Pada akhirnya, pendidikan yang humanis tidak dapat dibangun oleh satu sekolah, satu guru, atau satu program. Ia lahir ketika anak, keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan berbagai mitra saling terhubung, berjejaring dan melihat potensi di sekitar mereka sebagai bagian dari ekosistem belajar. Di tengah berbagai keterbatasan di ujung selatan Indonesia, kita tetap dapat melihat banyak hal sebenarnya telah tersedia. Saat kita melihat anak-anak dengan potensi dan kreativitas, guru yang mau belajar, alam sebagai ruang belajar, serta berbagai pihak yang bersedia berjalan bersama – maka kita akan mulai membangun jembatannya. Karena itu, STEAM Jamboree bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah langkah kecil untuk membuktikan bahwa ketika sinergi dibangun, pendidikan dapat menjadi gerakan bersama untuk memanusiakan anak dan menumbuhkan generasi yang berdampak.

~

DAFTAR PUSTAKA

Rosanah, S.S., M.I.Kom., AMIPR., C.PS. (2026). Estetika Humanisme: Makna Hidup dan Tujuan Hidup. Materi kuliah, Universitas Siber Asia (UNSIA).

Rosanah, S.S., M.I.Kom., AMIPR., C.PS. (2026). Building Network / Networking. Materi kuliah, Universitas Siber Asia (UNSIA).

Kota Kupang Dalam Angka 2026, https://kupangkota.bps.go.id/id/publication/2026/02/27/6a2740fbcfe4b1c8769a19b6/kota-kupang-dalam-angka-2026.html

NTT dalam Angka 2026, https://ntt.bps.go.id/id/publication/2026/02/27/d993a1b107b4d07b54afb390/provinsi-nusa-tenggara-timur-dalam-angka-2026.html

Comments are closed!